Pembangunan talud pengaman tebing Sungai Rupit Diduga Dibangun Asal-Asalan oleh oknum kontraktor,Legislatif Kompak Enggan Berkomentar.

Muratara37 Dilihat

 

 

 

Muratara,muratarabicara.com-Polemik seputar dugaan pembangunan pengamanan Sungai Rupit dengan anggaran Rp. 12 milyar lebih terus berlanjut.

Teranyar, legislatif di Kabupaten Musi Rawas Utara kompak enggan berkomentar. Diantara yang enggan berkomentar Ketua DPRD Musi Rawas Utara, Devi Arianto, SH. MH dan Wakil Ketua I, Eksentrisitas Versace.

“Kalau masalah itu, saya belum mau berkomentar. Kalau bisa jangan saya, ” Ucap Devi Arianto kepada wartawan, usai memimpin rapat paripurna, Selasa (31/3/2026).

Hal senada dikatakan Wakil Ketua I, Ekien Versace, diapun sama mengatakan jangan sayalah yang berkomentar.

“Kalau bisa jangan sayalah yang berkomentar. Tidak enak, ” Katanya.

Tidak maunya kedua orang penting ini berkomentar menimbulkan dugaan ada yang mereka sembunyikan terkait proyek pembangunan pengaman Sungai di Desa Lawang Agung, Kecamatan Rupit, dengan anggaran Rp. 12 milyar lebih.

Dirasa tidak mungkin keduanya tidak mengetahui ada pembangunan pengamanan Sungai Rawas yang beraknya kurang lebih satu kilo dari kantor DPRD Kabupaten Musi Rawas Utara.

Hasil pantauan terbaru sebelum banjir melanda. Tiang penahan sungai yang sudah ditanamkan tersebut diduga sudah banyak yang condong alias nyaris roboh. Kondisi ini diperparah dengan cor beton penahan tiang sudah ada yang rusak. Kemudian jarak antara kedua tiang sudah banyak yang renggang.

Parahnya lagi saat pembangunan proyek tersebut pengambilan pasir tidak jauh dari lokasi pembangunan proyek.

Jarak pengambilan pasir dengan proyek sekitar satu meter. Hal itu tentu sangat berdampak dengan tembok penahan tebing yang baru dipasang.

Penyedotan pasir menggunakan mesin dompeng hanya berjarak kurang lebih dua meter.

Seorang masyarakat, Hn membenarkan sebelum banjir tembok penahan tebing sudah banyak yang condong nyaris roboh. Kemudian pengambilan pasir tidak jauh dari lokasi pembangunan.

“Tentu kami sebagai masyarakat banyak menemukan kejanggalan. Tapi mau komentar tidak berani. Takut dikatakan kayak sangat mengerti bangunan, ” Pungkasnya. (**)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Komentar